Medan, 19 Desember 2013
Assalamu’alaikum
ibunda ku yang teristimewa,
Apa kabar Ibundaku ? Aku yakin
engkau dalam keadaan baik dalam lindungan-Nya. Ini aku putri kecilmu yang sudah
tumbuh menjadi gadis yang belajar untuk tetap kuat dan berjuang untuk membuatmu
tersenyum di sana. Ada hal yang memaksaku untuk menuliskan surat ini untukmu.
Memaksaku begitu keras hingga aku tak mampu menolaknya walau sekuat tenaga aku
coba mengabaikannya. Rindu. Rindu ini yang memaksaku menuliskan surat ini
untukmu. Mengungkapkan segenap rasa yang beradu dalam jiwaku.
Bu..tahukah engkau betapa banyak
ungkapan yang kian tertahan di bibirku bahkan ungkapan terima kasih pun masih
saja jarang ku haturkan untukmu. Dalam keterbatasanmu engkau tetap saja
berusaha menepikan luka dan dukaku. Apapun engkau perjuangkan agar aku tumbuh
seperti yang engkau harapkan. Nafasmu kian terengah – engah setiap kali bekerja
keras untukku. Langkahmu kian melemah tiap kali rasa sakit itu menggrogoti
semangatmu. Tapi, apa yang engkau lakukan ? engkau justru tetap tegar dalam
keadaan itu.
Bu..andai ku kumpulkan berbukit
bunga indah untuk berterima kasih padamu mungkin itu belum cukup untuk membalas
cinta kasihmu. Andai ku petikkan bintang dan ku ambilkan cahaya bulan untuk
menerangi gelap hari – harimu juga belum cukup untuk menggantikan lelahmu. Tapi,
lihatlah dirimu tanpa semua itu pun engkau bahkan tetap indah dan bersinar di
setiap hari – harimu.
Ini aku bu.. gadismu yang sedang
mencari jalan untuk menjadi anak yang dapat engkau banggakan. Yang merindukan
setiap dekap hangatmu dalam setiap malamku. Yang merindukan nasehat dan
bimbinganmu dalam setiap salah dan khilafku.
Ada yang ku sesalkan saat ini bu.
Engkau tak memberikanku kesempatan menyapu peluh keringat yang menetes darimu,
menunaikan baktiku sebagai anakmu, menemani hari tuamu. Tapi, apalah dayaku bu,
ketetapan-Nya tetaplah rencana yang terindah. Hadirmu di sisi-Nya pasti juga
dengan rencana yang indah. Bahkan, hingga saat engkau tak lagi di sisiku pun
sosokmu masih saja mengingatkanku. Mengingatkanku untuk tetap belajar. Mengajarkanku
untuk mandiri, tegar dan berbahagia dengan segala penerimaan.
Bu.. andai saat ini aku mampu
bersimpuh di hadapanmu. Memelukmu dengan erat dan menahan tangisku.
Mengungkapkan semua cinta yang sempat tertahan di bibirku. Bu.. aku mencintaimu
dengan kelemahan dan keterbatasanku, begitu merindukan semua yang pernah kita
lalui. Namun, cinta ini tak sebesar cinta-Nya untukmu. Dia menghentikan semua
kesakitan yang engkau lalui. Semua luka yang terus – menerus engkau hadapi.
Allah jauh lebih mencintaimu.
Mungkin hanya lewat do’a kini aku
coba berbakti padamu. Hingga nanti engkau lihat dari sana aku memakai toga yang
juga merupakan harapanmu. Ku tuliskan surat ini sebagai desakan rindu yang
memaksaku menuliskannya. Terima kasih bu.. untuk semua lelah dan tangis yang
tertuang darimu untukku. Untuk semua cinta dan kasih yang tak pernah usai.
Terima kasih bu ..
Terima kasih bu..
Terima kasih bu..
Aku mencintaimu..
Salam rindu untukmu
yang teristimewa ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
no spam yah ^^