Selasa, 28 Januari 2014

Sosok Istimewa


Surat Cinta Untuk Ibu



Medan, 19 Desember 2013

Assalamu’alaikum ibunda ku yang teristimewa,
Apa kabar Ibundaku ? Aku yakin engkau dalam keadaan baik dalam lindungan-Nya. Ini aku putri kecilmu yang sudah tumbuh menjadi gadis yang belajar untuk tetap kuat dan berjuang untuk membuatmu tersenyum di sana. Ada hal yang memaksaku untuk menuliskan surat ini untukmu. Memaksaku begitu keras hingga aku tak mampu menolaknya walau sekuat tenaga aku coba mengabaikannya. Rindu. Rindu ini yang memaksaku menuliskan surat ini untukmu. Mengungkapkan segenap rasa yang beradu dalam jiwaku.
Bu..tahukah engkau betapa banyak ungkapan yang kian tertahan di bibirku bahkan ungkapan terima kasih pun masih saja jarang ku haturkan untukmu. Dalam keterbatasanmu engkau tetap saja berusaha menepikan luka dan dukaku. Apapun engkau perjuangkan agar aku tumbuh seperti yang engkau harapkan. Nafasmu kian terengah – engah setiap kali bekerja keras untukku. Langkahmu kian melemah tiap kali rasa sakit itu menggrogoti semangatmu. Tapi, apa yang engkau lakukan ? engkau justru tetap tegar dalam keadaan itu.
Bu..andai ku kumpulkan berbukit bunga indah untuk berterima kasih padamu mungkin itu belum cukup untuk membalas cinta kasihmu. Andai ku petikkan bintang dan ku ambilkan cahaya bulan untuk menerangi gelap hari – harimu juga belum cukup untuk menggantikan lelahmu. Tapi, lihatlah dirimu tanpa semua itu pun engkau bahkan tetap indah dan bersinar di setiap hari – harimu.
Ini aku bu.. gadismu yang sedang mencari jalan untuk menjadi anak yang dapat engkau banggakan. Yang merindukan setiap dekap hangatmu dalam setiap malamku. Yang merindukan nasehat dan bimbinganmu dalam setiap salah dan khilafku.
Ada yang ku sesalkan saat ini bu. Engkau tak memberikanku kesempatan menyapu peluh keringat yang menetes darimu, menunaikan baktiku sebagai anakmu, menemani hari tuamu. Tapi, apalah dayaku bu, ketetapan-Nya tetaplah rencana yang terindah. Hadirmu di sisi-Nya pasti juga dengan rencana yang indah. Bahkan, hingga saat engkau tak lagi di sisiku pun sosokmu masih saja mengingatkanku. Mengingatkanku untuk tetap belajar. Mengajarkanku untuk mandiri, tegar dan berbahagia dengan segala penerimaan.
Bu.. andai saat ini aku mampu bersimpuh di hadapanmu. Memelukmu dengan erat dan menahan tangisku. Mengungkapkan semua cinta yang sempat tertahan di bibirku. Bu.. aku mencintaimu dengan kelemahan dan keterbatasanku, begitu merindukan semua yang pernah kita lalui. Namun, cinta ini tak sebesar cinta-Nya untukmu. Dia menghentikan semua kesakitan yang engkau lalui. Semua luka yang terus – menerus engkau hadapi. Allah jauh lebih mencintaimu.
Mungkin hanya lewat do’a kini aku coba berbakti padamu. Hingga nanti engkau lihat dari sana aku memakai toga yang juga merupakan harapanmu. Ku tuliskan surat ini sebagai desakan rindu yang memaksaku menuliskannya. Terima kasih bu.. untuk semua lelah dan tangis yang tertuang darimu untukku. Untuk semua cinta dan kasih yang tak pernah usai.
Terima kasih bu ..
Terima kasih bu..
Terima kasih bu..
Aku mencintaimu..

Salam rindu untukmu yang teristimewa ...

Weny Ramadhany Harahap